


Malam Penuh Cahaya: Kemeriahan Api Unggun Warnai P3KA 2025 di An Najah
Martapura, Sabtu Malam, 1 Agustus 2025
Langit malam yang cerah, desir angin yang tenang, dan gemerlap bintang menjadi saksi bisu atas peristiwa penuh makna yang berlangsung di halaman utama Pondok Modern An Najah. Suasana berubah syahdu saat acara penyalaan api unggun digelar sebagai puncak kegiatan Perkemahan Pekan Perkenalan Khutbatul ‘Arsy (P3KA) Tahun 2025.
Tepat setelah adzan Isya, seluruh santriwati berkumpul dalam formasi upacara. Langkah-langkah tegap dan rapi, pancaran semangat dari wajah-wajah muda, serta keheningan yang sarat antisipasi menciptakan atmosfer yang sakral sekaligus membara.



Acara dimulai dengan upacara pembukaan khas pramuka, namun ada yang istimewa malam itu—sebuah pertunjukan simbolik yang sarat makna dan keindahan visual. Dari sudut lapangan, sepuluh santriwati berjalan perlahan memasuki arena. Masing-masing menggenggam obor—sembilan dalam keadaan mati, dan satu di antaranya menyala terang.
Mereka mengelilingi kayu bakar besar yang belum menyala, menciptakan formasi lingkaran yang menegangkan namun memikat. Kemudian, sang pembawa obor pertama—dengan suara lantang yang membelah malam—meneriakkan Dasa Dharma pertama dalam tiga bahasa: Indonesia, Arab, dan Inggris. Sebuah suara yang menggema, menciptakan getar di dada siapa pun yang mendengar.




Usai meneriakkan dasa darma pertama, ia menyalakan obor milik santriwati kedua. Suara Dasa Dharma kedua pun berkumandang. Begitu seterusnya hingga seluruh sepuluh obor menyala, menerangi lapangan dengan cahaya keemasan yang menari-nari di wajah para peserta dan penonton.
Saat Dasa Darma kesepuluh diteriakkan, lapangan hening. Semua orang diam, menunggu. Ketegangan menggantung di udara. Tak ada suara selain napas yang tertahan. Hingga kemudian, MC memandu hadirin dan mengarahkan KH. Sarkawi, S.Pd.I., yang telah berdiri di atas panggung, untuk menyalakan tombol penyalaan api unggun, didampingi langsung oleh Kiai Rahmat Rayno, S.Pd.






Dengan penuh khidmat, Kiai Sarkawi menekan tombol tersebut, dan seketika itu juga kayu bakar besar menyala membumbung tinggi ke langit malam. Dalam momen puncak tersebut, beliau berseru lantang, “Allahu Akbar!”, dan gemuruh takbir serentak pun menggema dari seluruh santriwati, menggetarkan seluruh halaman pondok.
Santriwati bersorak, sebagian terharu, sebagian lainnya larut dalam takzim. Malam itu bukan sekadar tentang api, melainkan tentang semangat kebersamaan, keindahan simbolik nilai-nilai luhur, dan kekuatan karakter yang perlahan tumbuh dalam diri para peserta perkemahan.




Sebagai penutup, malam itu ditutup dengan penampilan seni dari seluruh angkatan, mulai dari kelas 1 hingga kelas 6, yang mempersembahkan pertunjukan unik dan kreatif mereka masing-masing. Setiap kelas menampilkan kemampuan terbaik dengan semangat dan penuh rasa bangga, menjadi bukti bahwa perkemahan ini bukan hanya tentang kedisiplinan, tetapi juga tentang ekspresi dan kolaborasi.
Dengan nyala api yang terus menari hingga larut malam, perkemahan An Najah kembali membuktikan bahwa pendidikan karakter bukan hanya soal teori—tetapi pengalaman yang ditanamkan dengan cara yang begitu memukau, menggugah, dan tak terlupakan.
Tim Media Pondok Modern An-Najah Cindai Alus Putri
